Oleh: horas pasaribu | 31 Desember 2009

Pengabdian seorang Alumni ’94 SMP N Garoga

Resita dan Pendidikan Gratis Anak Miskin
Written by Swisma
Saturday, 02 May 2009 10:02
Program pendidikan gratis yang digalang Sita tidak pernah masuk iklan televisi. Namun bermodal niat tulus, kini sebanyak 90 anak miskin memperoleh pelajaran tambahan tanpa dipungut biaya.
Resita br Lubis-nama lengkapnya-satu dari  segelintir guru dengan semangat pengabdian yang luar biasa. Mengajar anak-anak miskin dilakukan perempuan 30 tahun  itu di tengah kesibukan profesi sehari-harinya sebagai guru PNS di SMP Negeri 1 Galang. Hal itu dilakukan dua kali seminggu di satu ruang kelas Lembaga Pendidikan C4 Solution Komunitas Air Mata Guru di Jalan Setia Budi No 249-A Medan. “Dari 90 siswa saya itu, tiga di antaranya merupakan anak putus sekolah,” ujar Sita.
Keinginan Sita mengajar anak-anak yang tidak mampu tanpa dipungut bayaran sepeser pun, berawal dari keprihatinan melihat mereka yang tidak mampu mendapatkan pendidikan tambahan  karena keterbatasan ekonomi orangtuanya. Kesulitan mendapatkan pendidikan bagi anak kurang mampu, pernah dialami dan dirasakan Sita. Orangtuanya hanyalah seorang petani miskin di  Kecamatan Garoga Kabupaten Tapanuli Utara. “Saya sedih jika mengenang masa lalu saat duduk tingkat SD yang serba terbatas, sehingga harus meminjam buku pelajaran dari teman,” ujarnya.
Ketulusan dan kepedulian alumni Unimed angkatan tahun 2001 ini pada pendidikan anak miskin, dibuktikan dengan usahanya mendatangi sendiri ke rumah orangtua anak didiknya  untuk meminta izin agar diberikan pendidikan tambahan. Semua ini dilakukannya karena memberikan les gratis pada anak miskin bagi Sita karena menyadari anak-anak tersebut tidak bisa mendapatkan tambahan pendidikan usai sekolah, padahal pendidikan di sekolah saja kurang memadai jika tidak diiringi dengan pendidikan di luar sekolah.
“Sejujurnya saya sedih melihat pendidikan kita saat ini yang penuh dengan pembohongan dan pembodohan hanya karena kepentingan sekelompok tertentu seperti pelaksanaan Ujian Nasioanl (UN) yang memaksakan siswa maupun pihak sekolah berbuat curang,” ujar wanita yang masih melajang ini.
Program pendidikan gratis milik Sita diikuti anak kelas 1 sekolah dasar sampai kelas 9 SMP dengan pola pembelajaran dua kali seminggu. Sita mengaku puas dan bangga jika melihat anak didiknya itu pulang setelah mendapatkan les darinya dengan wajah gembira karena bisa mendapatkan tambahan pelajaran di luar  sekolah. Terkait  Hardiknas  yang diperingati setiap 2 Mei, Sita berharap pemerintah mengkaji beberapa program pendidikan yang dinilainya bertentangan dengan UUD 1945.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: