Oleh: horas pasaribu | 31 Desember 2009

Tiga Kecamatan di Taput Dianggap Tempat ‘Buangan’ termasuk Garoga

Hari ini saya membaca sebuah tulisan mengenai Garoga seperti dibawah ini :

Mutasi atau perpindahan tempat tugas, memang sudah menjadi tunangan bagi setiap pegawai negeri sipil (PNS). Sebab, sesuai sumpah/janjinya sejak nmenerima SK CPNS, setiap PNS harus siap ditempatkan di mana saja. Loyalitas, bahasa kerennya, konon harus dijunjung tinggi setiap pegawai negeri.

Tapi ketentuan eksplisit itu bagi sebagian besar PNS di Taput, sering dianggap hanya sekadar hiasan retorika. Sebab, manakala lokasi atau daerah perpindahan itu sudah mengarah ke wilayah terpencil,ceritanya bisa lain.. Banyak PNS di daerah ini, terutama guru SD, yang “dihantui” rasa takut, manakala dimutasikan ke wilayah yang dirasa asing baginya. “Sumpah janji bisa-bisa saja siap ditempatkan di mana saja, tapi kalau sudah dipindahkan ke Garoga, harus berpikir tujuh kali”, kata seorang ibu guru SD kepada BATAKPOS, belum lama ini. Akhir-akhir ini, mutasi di lingkungan PNS Taput, khususnya guru, makin sering terjadi, usai pilkada. Tak ayal, banyak PNS yang kurang nyenyak tidur. Sedikit saja ada mulut usil membisikkan nama seseorang bakal digeser, selera makan dan tidur bisa lenyap.

Di Taput, ada tiga kecamatan yang dianggap “momok” di kalangan PNS. Ketiga kecamatan tersebut, yakni Kecamatan Garoga, Kecamatan Adian Koting, dan Kecamatan Parmonangan. Tiga wilayah kecamatan itu, hingga kini masih tertinggal di bidang infrastruktur jalan. Selain medan geografis yang sebagian besar masih sulit. Banyak PNS menganggap tiga kecamatan itu, bagaikan “tempat buangan”, dalam hal mutasi.

Dari data yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS) Tapanuli Utara tahun 2007, Kecamatan Garoga berjarak 68 kilometer dari Tarutung. Masalah infrastruktur jalan ke daerah itu dari dulu hingga sekarang jadi masalah klasik, yang belum tuntas teratasi. Banyak PNS yang merasa terbuang jika dimutasikan ke Garoga. “Saya merasa sudah dibuang, tak tahu apa ini terkait pilkada”, kata seorang guru yang mengetahui SK perpindahannya ke Garoga.

Kecamatan Adian Koting, meski jaraknya dari Tarutung hanya 26 km dari Tarutung, tapi banyak desa di sana berstatus terasing. Seperti Desa Siantar Naipospos, atau Torhonas. Di beberapa desa malah masih ada yang belum bisa dijangkau sepeda motor.

Demikian halnya Kecamatan Parmonangan, yang jaraknya dari Tarutung mencapai 58 km. Meski infrastruktur jalan utama sudah beraspal, tapi kondisinya sebagian besar masih memprihatinkan. Hampir tiap tahun jalan direhab, tapi kualitasnya jelek. Jarang tahan lama. Medan wilayah Parmonangan juga masih sangat tertinggal. Banyak desa yang tak bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua. Bahkan di beberapa desa seperti Hajoran atau Manalu Purba, masih ditemukan kuda beban sebagai sarana pengangkutan. Tak heran, kalau banyak PNS khususnya guru SD, selalu dibayangi ketakutan dipindahkan ke Parmonangan. Sebagian warga merasa kampung halamannya belum merdeka.

Di kalangan PNS Taput, ke tiga kecamatan ini sering muncul jadi bahan guyonan bersayap terhadap sesama rekan. “Enak juga lae nanti, kalau jadi dipromosikan menempati pos baru di Parmonangan atau Garoga”, kata seorang PNS di salah satu instansi kepada seorang rekannya sekantor. Meski hanya guyonan, tapi sang rekan langsung menanggapi dengan ketus,”dari pada ke Parmonangan atau Garoga, lebih baik pensiun dini”.

Tapi itu pasti cuma reaksi emosional karena trauma. Sebab, jika orang penting yang di atas sudah meneken SK, apa PNS atau guru bisa mengelak? Yang tak enaknya, seperti dikatakan seorang guru di Tarutung, kalau pemutasian ke daerah terpencil itu, dijadikan dalih menakut-nakuti PNS. Atau semacam sanksi, apabila ketahuan menyimpang dari kepentingan politik orang-orang di atas sana. Awas, bagi yang membangkang, hukumannya itu tadi: dinontugaskan atau digeser ke Garoga, Adian Koting, atau Parmonangan.

Apa pun ceritanya, yang jelas tiga kecamatan tersebut sangat tidak menyenangkan bagi para PNS. Kecuali bagi mereka yang kebetulan berasal dari daerah itu. Seperti diungkapkan seorang guru, dimutasi oke-oke saja.Tapi, janganlah ke Garoga, Adian Koting, atau Parmonangan.Sombakku ma raja nami, metmet dope angka dakdanak i tinggalhononku (tolonglah, jangan kesana, anak-anak masih kecil untuk ditinggal-tinggalkan), demikian ungkapan kecemasan seorang ibu guru.Dilematis, memang.  leonardo simanjuntak

di copy paste dari http://batakpos-online.com/content/view/12214/42/

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: